Nasehat
JATUH CINTA
Setiap orang pernah mengalami apa yang disebut jatuh cinta. Umumnya, jatuh cinta itu terjadi pada lawan jenis. Berjuta rasanya. Tak ada satupun kata-kata yang bisa mewakili perasaan orang jatuh cinta. Sebutlah misalnya kata senang, gembira, bahagia, bergetar, berdebar, takut kehilangan, cemburu, ingin selalu bersama, semua terlihat indah dan menyenangkan, tetap saja tidak bisa mewakili seluruh nuansa yang namanya jatuh cinta. Biasanya yang lama diingat orang melalui jatuh cinta adalah kejadian-kejadian yang mengesankan, walau bersifat sederhana. Memegang tangan pasangan saja misalnya bisa membuat jantung berdebar. Melihat matanya yang dibalut senyum bisa membuat terkenang-kenang selamanya. Kata-kata pertama yang meluncur ketika menyatakan cinta kepada lawan jenis, bisa menjadi satu rangkaian kalimat yang terdengar di telinga setiap hari.
Inilah rangkaian peristiwa yang membuat jatuh cinta diidentikkan dengan perasaan (feeling). Banyak sudah lagu, film, sinetron, novel, syair, legenda, puisi yang lahir dari sumber cinta sebagai perasaan. Ceritanya tak akan ada habisnya. Coba perhatikan pengalaman jatuh cinta kita masing-masing. Ada kekuatan maha dahsyat yang ada di dalam diri, yang membuat badan, jiwa dan pikiran ini demikian perkasanya. Seolah-olah disuruh memindahkan gunung pun rasanya bisa. Disuruh mengecat langit pun mampu. Tak ada yang tak mungkin. Tak ada yang muskil.
Kekuatan cinta memang luar biasa. Tengoklah sejarah tentara Inggris yang demikian perkasa harus pergi dari India karena kekuatan cinta Mahatma Gandhi beserta pejuang lainnya. Negeri ini dideklarasikan secara amat gagah berani melalui cinta duet Sukarno-Hatta. Sulit membayangkan bagaimana seorang Jenderal besar Sudirman bisa memimpin pasukan melawan Belanda dengan badan yang sakit-sakitan, kalau tanpa modal cinta yang mengagumkan. Banyak usahawan yang berhasil menggunakan tenaga maha besar ini untuk menekuni seluruh pekerjaannya. Ibu yang mencintai keluarganya mengabdikan seluruh tenaganya untuk mencintai anak dan suaminya. Pekerja yang menyadari kekuatan ini menggunakannya untuk bekerja mencari harta di jalan-jalan halal, jalan cinta. Banyak orang yang dijemput keajaiban karena kemampuan untuk membangkitkan tenaga maha dahsyat ini. Maka tak heran pengarang buku The Path To Love, Deepak Chopra, menyebut bahwa jatuh cinta adalah sebuah kejadian spiritual. Ia tidak semata-mata bertemunya dua hati yang cocok kemudian menghasilkan jantung yang berdebar-debar. Ia adalah tanda-tanda hadirnya sebuah kekuatan yang dahsyat. Persoalannya kemudian, untuk apa kekuatan dahsyat tadi digunakan.
Bermula dari pemahaman seperti inilah, maka saya terhenti pada salah satu sabda Rasulullah SAW yang begitu mendalam. Inspiratif, sehubungan dengan masalah jatuh cinta ini. Dari Anas ra., dari Nabi SAW beliau bersabda, “Ada tiga perkara barangsiapa tiga hal itu ada pada dirinya, maka ia menjumpai manisnya iman, yaitu jika Allah dan RasulNya lebih dicintainya ketimbang selain keduanya, dan jika cinta kepada seseorang, dimana tidak mencintainya kecuali karena Allah dan jika benci kembali kepada kekafiran sebagaimana benci apabila dilempar ke dalam api neraka.” (Rowahu al-Bukhary Juz I Bab Halawatul Iman)
Rupanya Rasulullah SAW sudah jauh – jauh hari memberikan wejangan yang luhur, menyebutkan secara tersirat penggunaan kekuatan cinta dalam beribadah. Bahwa apa yang seseorang alami berupa jatuh cinta bukan melulu masalah dunia saja. Tetapi di dalam masalah agama juga bisa terjadi hal serupa. Kalau seseorang bisa jatuh cinta kepada lawan jenisnya dan memperoleh kekuatan maha dahsyat sehingga bisa melampaui segala rintangan dan cobaan sehingga tercapai tujuan, maka demikian juga dalam hal beroleh keimanan ini. Lihatlah Perang Badar, 313 orang iman bisa mengalahkan 1000 orang kafir yang bersenjata lengkap. Ini adalah bukti kekuatan cinta orang iman, ketika mereka sudah jatuh cinta di jalan Allah dan RasulNya. Hidup dipenuhi kemuliaan. Hidup penuh dengan kesadaran untuk menjalankan setiap perintah dengan sami’na wa atho’na. Mati bukanlah hal yang menakutkan, justru dengannya terbentang jalan lebar cinta untuk menemui Sang Kekasih yang sebenarnya; Allah SWT. Jika mereka kembali, maka kembali dengan penuh kesyukuran dan kepasrahan yang mendalam. Merenda kasihNya dengan cara menjalankan semua perintah dan menjauhi laranganNya. Selalu bangun, bersimpuh di 1/3 malam yang akhir. Semua berakar karena cinta dan diliputi kerinduan yang sangat, sehingga berulang dan mendalam. Dalam beribadah jalan cinta merupakan lorong terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Apalagi jika sudah benar – benar jatuh cinta.
Pendekatan jatuh cinta dalam beribadah memang luar biasa. Namun tidak gampang untuk bisa jatuh cinta dalam beribadah. Perlu perjuangan tersendiri. Mulai sekarang sadarilah bahwa jatuh cinta bukan sekedar masalah perasaan saja, temukan dan bangunlah jatuh cinta sebagai kekuatan spiritual. Jatuh cinta bisa digunakan sebagai sarana bagi orang yang berjalan menekuni lorong – lorong keimanannya untuk menemukan manisnya iman. Dan ada tiga jalan cinta yang saling menguatkan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas; cinta Allah – Rasul, cinta kepada seseorang karena Allah dan benci kembali pada kekafiran. Jatuh cinta sebagai kejadian spiritual, yang dituju adalah bergabungnya diri kita dengan Yang Maha Kuasa. Ketika kita menemukannya, kata manapun tidak bisa mewakilinya. Yang ada hanya : ahhhhh…subhanallah…sempurna!
Dari Zaid bin Tsabit r.a., dia mengatakan, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang menjadikan dunia sebagai niatnya, Allah akan menjadikan kefakiran di depan matanya dan Allah akan cerai – beraikan kebutuhannya. Dan dunia tidak akan datang kepadanya, kecuali yang telah ditetapkan baginya. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya, Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya, Allah akan mencukupi kebutuhannya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk.” (Rowahu Ibnu Majah)
Oleh karena itu, mari kita jatuh cinta. Serupa dengan pengalaman jatuh cinta ketika kita masih muda, di mana semua unsur badan dan jiwa ini demikian kuat dan perkasanya, demikian juga dengan jatuh cinta sebagai kejadian spiritual. Dari sinilah sang Khalik kemudian menarik kita tinggi-tinggi ke rangkaian realita yang oleh pikiran biasa disebut luar biasa. Ia mendamaikan, menggembirakan, mencerahkan, mengagumkan dan menakjubkan. Nah, sesuai dengan maksud di awal tulisan ini, yaitu untuk mawas diri, sebenarnya sudahkah kita jatuh cinta secara spiritual ini, setelah sekian lama menyebut diri orang iman? Jika belum, mari kembangkan diri lebih baik lagi, bukan target dan pencapaian – pencapaian tahunan yang kita cari, tetapi kematangan diri dalam persiapan kembali ke surgawi. Dan jalan – jalan cinta sudah menunggu, dengan sabarnya mereka menanti, kapan kita jatuh cinta di jalan Allah dan RasulNya ini.
Oleh:Ustadz.Faizunal Abdillah
----------------------------------------------------------------------------------
HIDUP, AMAL DAN CINTA
HIDUP, AMAL DAN CINTA
Untuk variasi, kadang kalau mau nderes, saya suka gambling. Ambil kitab, tegakkan dan biarkan kitab terbuka dengan sendirinya. Acak. Atau ambil kitab, pegang dan buka sembarang. Hal itu sering saya lakukan kalau pas tidak ada ide. Lagi penat bin sumpek. Kalau halaman yang terbuka ternyata tidak menarik, ritual itu diulangi lagi. Sampai dapat sesuai selera. Bahkan tak jarang malah ganti kitab. Selain cara di atas, biasanya saya juga pakai gaya kuno, telusur dari daftar isi dan buka lembar per lembar. Dari bab, sub bab kemudian ke judul, baru lari ke halaman yang dimaksud. Topiknya pasti yang menarik hati saja, hindari yang ruwet dan berat - berat. Yang menyenangkan dan menambah semangat maupun keimanan saja. Ada kalanya, kegiatan seperti itu membuahkan sesuatu yang mengharukan, seperti mendapatkan sesuatu yang benar – benar baru. Dahsyat. Laksana mendapat durian runtuh. Maklum, memory manusia memang terbatas. Lupa seolah menjadi menu dimana - mana. Padahal sebenarnya hanya pengulangan saja kan? Namanya saja deres. Namun, karena situasi dan kondisinya berbeda inilah, akhirnya hasilnya pun beda pula rasanya. Untuk kali ini saya akan berbagi sesuatu yang saya dapatkan dari kegiatan kecil berupa deres ini, dengan hasil yang saya sebut mengharu-biru cakrawala batin saya.
Dari Sahal bin Sa’ad, dia berkata, “Jibril datang kepada Nabi SAW dan berkata, ‘Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu karena kamu pasti mati, beramallah sesukamu karena kamu akan dibalas dengannya, dan cintailah orang yang kamu cintai sesukamu karena kamu pasti berpisah dengannya. Dan ketahuilah sesungguhnya kemuliaan seorang mukmin adalah qiyamul lail (sholat malam) dan kehormatan mukmin adalah rasa kayanya (menahan diri dari meminta – minta) jauh dari sesama manusia.” (rowahu at-Thabrani fi Mu’jam al-Ausath)
Dimanakah daya tariknya? Wuih…, banyak sekali menurut saya. Pertama, dari gaya bahasanya. Saya suka sekali dengan pemakaian kata syi’ta - sesuka – sukamulah. Ngledek banget rasanya. Orang jawa bilang nglulu. Ingat sama Ahli Badar yang fenomenal itu. Kesan awal begitu menggoda, seperti mendapatkan kebebasan; terserah lho deh! Tapi dikunci dengan akhir pernyataan yang pakem. Kalimat yang imbang. Seperti dilepas, kemudian ditarik lagi. Diangkat terus dijatuhkan. Sebagai mukmin seperti ditantang kemukminannya. Tunjukkan merahmu, begitu kalau boleh meminjam salah satu iklan rokok.
Kedua, yang dibahas hal yang esensial lagi universal: hidup, amal dan cinta. Boleh hidup sesukanya, tapi ingat, semua orang pasti mati. Artinya bersiaplah untuk bekal setelah mati. Seorang bijak pernah ditanya, ''Apa yang Anda dan murid-murid Anda lakukan dalam hidup ini?'' Ia menjawab, ''Kami hanya duduk, kami hanya berjalan, dan kami makan.'' Si penanya tidak mengerti apa maksudnya. ''Tetapi,'' lanjutnya, ''Bukankah setiap orang juga duduk, berjalan, dan makan?'' ''Ya,'' sahut sang bijak,'' Tetapi ketika kami duduk, kami sadar kami sedang duduk. Ketika kami berjalan, kami sadar bahwa kami sedang berjalan. Ketika kami makan, kami sadar kami sedang makan.'' Jadi, sadarlah selalu kemana hidup ini berjalan dan untuk apa hidup kita sebelum gerbang kematian benar – benar datang menyapa.
Boleh berlaku dan beramal seenaknya, tapi semua diri nanti akan menerima ganjarannya masing – masing. Kalau benar dapat, kalau salah ya bersiaplah; guwak byuk. Beramal, bukan sekedar baik tapi harus tepat sasaran; buat diri dan sekitar. Ada seorang Bapak tua sedang asyik menanam pohon buah – buahan di sebuah bukit yang gundul dan gersang. Bukit itu akhirnya penuh dengan pepohonan dan buah – buahan. Orang jadi senang dan memperoleh manfaat dari budi baik si Bapak itu. Karenanya, menghantarkan si bapak menerima penghargaan sebagai pengakuan akan jasanya. Pada malam penghargaan si Bapak ditanya, “Apa yang melatarbelakangi tindakan yang mulia itu?” Si Bapak dengan spontan menjawab, “Bumi telah lama memberikan kebaikan kepada saya dan orang – orang terdahulu juga telah mewariskan kebaikan yang banyak kepada saya. Mudah – mudahan dengan tindakan kecil saya ini, saya bisa membalas budi dengan memberikan sesuatu kepada generasi berikutnya dan orang – orang yang akan datang serta menjaga kelestarian dan keindahan bumi tercinta ini.”
Terus mencinta juga begitu, silahkan mencintai siapa pun dan apapun, tapi nanti akan berpisah juga. Jangan mencinta secara membabi - buta. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil terus menggumam, ''Lulu..., Lulu....!'' Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. ”Dokter kenapa orang ini?”, tanya si pengunjung. Si dokter menjawab, ''Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.'' Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat kamar lain ia terkejut melihat penghuninya terus - menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, ''Lulu, Lulu...., Lulu, Lulu...”. ''Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?'' tanya pengunjung memastikan. Dokter kemudian menjawab, ''Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.'' Hati – hatilah dengan masalah cinta ini. Salah mencinta bisa petaka.
Ketiga, ditunjukkan dua hal yang menjadi pemuncaknya; yaitu qiyamul lail dan prawiro. Berdiri di saat yang lain tertidur. Dan tidak blubut meminta – minta kepada manusia. Ta’afuf. Terjaga. Tiba – tiba dengan cepat terlintas dalam benak saya arti 4L dalam hadits ini. Kebutuhan berupa kebutuhan fisik untuk hidup (to live), berikutnya kebutuhan social emosional, saling kasih - sayang dan memperhatikan (to love), kemudian kebutuhan mental (to learn) dan terakhir adalah kebutuhan meninggalkan warisan (to leaving a legacy).
Keempat, seperti sebuah tamparan buat saya yang mengaku mukmin, ketika disebut qiyamul lail dan prawiro. Kata yang selalu menjadi impian tak pernah kesampaian. Dan ingin selalu didapatkan, tapi susahnya bukan kepalang. Tak lain karena jarangnya bisa melakukannya. Jadinya, seperti punguk merindukan bulan. Walau terus selalu mencoba meraihnya.
Kelima, segera saya menutupnya. Karena tak tahan mengulang dan mengulangnya. Semakin diulang semakin dalam sakitnya. Tambah lama tambah dalam dan lebar. Dan malam itu, dalam luka yang menganga, dan rindu yang dalam, tiba – tiba serasa saya dibangunkan dan punya kekuatan untuk bersimpuh kepadaNya. Alhamdulillah, alhamdulillah……
Oleh: Ustadz.Faizunal Abdillah
Dari Sahal bin Sa’ad, dia berkata, “Jibril datang kepada Nabi SAW dan berkata, ‘Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu karena kamu pasti mati, beramallah sesukamu karena kamu akan dibalas dengannya, dan cintailah orang yang kamu cintai sesukamu karena kamu pasti berpisah dengannya. Dan ketahuilah sesungguhnya kemuliaan seorang mukmin adalah qiyamul lail (sholat malam) dan kehormatan mukmin adalah rasa kayanya (menahan diri dari meminta – minta) jauh dari sesama manusia.” (rowahu at-Thabrani fi Mu’jam al-Ausath)
Dimanakah daya tariknya? Wuih…, banyak sekali menurut saya. Pertama, dari gaya bahasanya. Saya suka sekali dengan pemakaian kata syi’ta - sesuka – sukamulah. Ngledek banget rasanya. Orang jawa bilang nglulu. Ingat sama Ahli Badar yang fenomenal itu. Kesan awal begitu menggoda, seperti mendapatkan kebebasan; terserah lho deh! Tapi dikunci dengan akhir pernyataan yang pakem. Kalimat yang imbang. Seperti dilepas, kemudian ditarik lagi. Diangkat terus dijatuhkan. Sebagai mukmin seperti ditantang kemukminannya. Tunjukkan merahmu, begitu kalau boleh meminjam salah satu iklan rokok.
Kedua, yang dibahas hal yang esensial lagi universal: hidup, amal dan cinta. Boleh hidup sesukanya, tapi ingat, semua orang pasti mati. Artinya bersiaplah untuk bekal setelah mati. Seorang bijak pernah ditanya, ''Apa yang Anda dan murid-murid Anda lakukan dalam hidup ini?'' Ia menjawab, ''Kami hanya duduk, kami hanya berjalan, dan kami makan.'' Si penanya tidak mengerti apa maksudnya. ''Tetapi,'' lanjutnya, ''Bukankah setiap orang juga duduk, berjalan, dan makan?'' ''Ya,'' sahut sang bijak,'' Tetapi ketika kami duduk, kami sadar kami sedang duduk. Ketika kami berjalan, kami sadar bahwa kami sedang berjalan. Ketika kami makan, kami sadar kami sedang makan.'' Jadi, sadarlah selalu kemana hidup ini berjalan dan untuk apa hidup kita sebelum gerbang kematian benar – benar datang menyapa.
Boleh berlaku dan beramal seenaknya, tapi semua diri nanti akan menerima ganjarannya masing – masing. Kalau benar dapat, kalau salah ya bersiaplah; guwak byuk. Beramal, bukan sekedar baik tapi harus tepat sasaran; buat diri dan sekitar. Ada seorang Bapak tua sedang asyik menanam pohon buah – buahan di sebuah bukit yang gundul dan gersang. Bukit itu akhirnya penuh dengan pepohonan dan buah – buahan. Orang jadi senang dan memperoleh manfaat dari budi baik si Bapak itu. Karenanya, menghantarkan si bapak menerima penghargaan sebagai pengakuan akan jasanya. Pada malam penghargaan si Bapak ditanya, “Apa yang melatarbelakangi tindakan yang mulia itu?” Si Bapak dengan spontan menjawab, “Bumi telah lama memberikan kebaikan kepada saya dan orang – orang terdahulu juga telah mewariskan kebaikan yang banyak kepada saya. Mudah – mudahan dengan tindakan kecil saya ini, saya bisa membalas budi dengan memberikan sesuatu kepada generasi berikutnya dan orang – orang yang akan datang serta menjaga kelestarian dan keindahan bumi tercinta ini.”
Terus mencinta juga begitu, silahkan mencintai siapa pun dan apapun, tapi nanti akan berpisah juga. Jangan mencinta secara membabi - buta. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil terus menggumam, ''Lulu..., Lulu....!'' Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. ”Dokter kenapa orang ini?”, tanya si pengunjung. Si dokter menjawab, ''Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.'' Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat kamar lain ia terkejut melihat penghuninya terus - menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, ''Lulu, Lulu...., Lulu, Lulu...”. ''Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?'' tanya pengunjung memastikan. Dokter kemudian menjawab, ''Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.'' Hati – hatilah dengan masalah cinta ini. Salah mencinta bisa petaka.
Ketiga, ditunjukkan dua hal yang menjadi pemuncaknya; yaitu qiyamul lail dan prawiro. Berdiri di saat yang lain tertidur. Dan tidak blubut meminta – minta kepada manusia. Ta’afuf. Terjaga. Tiba – tiba dengan cepat terlintas dalam benak saya arti 4L dalam hadits ini. Kebutuhan berupa kebutuhan fisik untuk hidup (to live), berikutnya kebutuhan social emosional, saling kasih - sayang dan memperhatikan (to love), kemudian kebutuhan mental (to learn) dan terakhir adalah kebutuhan meninggalkan warisan (to leaving a legacy).
Keempat, seperti sebuah tamparan buat saya yang mengaku mukmin, ketika disebut qiyamul lail dan prawiro. Kata yang selalu menjadi impian tak pernah kesampaian. Dan ingin selalu didapatkan, tapi susahnya bukan kepalang. Tak lain karena jarangnya bisa melakukannya. Jadinya, seperti punguk merindukan bulan. Walau terus selalu mencoba meraihnya.
Kelima, segera saya menutupnya. Karena tak tahan mengulang dan mengulangnya. Semakin diulang semakin dalam sakitnya. Tambah lama tambah dalam dan lebar. Dan malam itu, dalam luka yang menganga, dan rindu yang dalam, tiba – tiba serasa saya dibangunkan dan punya kekuatan untuk bersimpuh kepadaNya. Alhamdulillah, alhamdulillah……
Oleh: Ustadz.Faizunal Abdillah
----------------------------------------------------------------------------------
Di kala datang hari itu (yaitu Hari Qiyamat), tidak ada seorangpun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. … Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. (QS Hud 105 dan 108)
Menyimak kembali beberapa tulisan tentang kebahagiaan tempo dulu, terbersit keinginan untuk me-redefinisi kajian tentang kebahagiaan ini. Bukan untuk unjuk kebolehan muapun ujub yang tak karuan, kami hanya bermaksud sekedar berbagi, juga semacam tanggung jawab moral atas kekurangan tempo dulu dan memberi makna lebih akan indahnya hidup ini. Namun demikian, tetap saja dalam memberikan jalan pemahaman mempunyai keterkaitan dengan kaidah dan sumber lain yang berhubungan dan memperkuatnya walau tak lepas dari kekurangan tentunya. Kata-kata yang sering kita jumpai dalam yang berhubungan dengan bahagia selain as-sa’iidu adalah seperti falah/aflah yang sering diartikan beruntung dan ghina atau kaya. Secara umum orang sering mengkaitkan kebahagiaan dengan keberuntungan dan kekayaan. Banyak orang yang berpendapat bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang kaya atau kalau tidak kaya setidaknya ia adalah orang yang beruntung. Mari kita simak sumber – sumber berikut.
Rasulullah SAW bersabda: “Di antara kebahagiaan anak Adam adalah istikharahnya (memohon pilihan) kepada Allah, dan diantara kebahagiaan anak Adam adalah kerelaannya kepada ketetapan Allah, sedangkan diantara kesengsaraan anak Adam adalah dia meninggalkan istikharah kepada Allah, dan diantara kesengsaraan anak Adam adalah kemurkaannya terhadap ketetapan Allah.” (Rowahu Ahmad No 1367)
Rasulullah SAW bersabda; ”Sungguh beruntung (bahagia) orang yang ditunjukkan (diberi hidayah) kepada islam dan diberi rizqi yang cukup dan menerima dengan hal tersebut”. (Rowahu Imam Muslim 2/730/1045; Tirmidzi 4/6/2452; Ibnu Majah 2/13/16/4138).
Rasulullah SAW bersabda: “Ridlalah dengan apa yang Allah bagikan buatmu, kamu akan menjadi orang yang terkaya”. (Rowahu Imam Turmudzi 3/377/2407)
Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah kaya itu karena banyaknya harta benda akan tetapi kaya itu adalah kaya jiwa”. (Rowahu Imam Bukhari 11/271/6446; Muslim 2/672/1051; Tirmidzi 4/35/2479)
Secara berurutan dalil - dalil di atas menunjukkan arah kemana manusia mencari ladang kebahagiaan. Benih – benih kebahagiaan ternyata dimulai dari sikap memilih. Dan di sinilah sebetulnya kemampuan manusia yang luar biasa itu di gali. Banyak di antara manusia yang belum sadar bahwa manusia diberi kebebasan dan kekuatan untuk memilih. Yang dalam bahasa haditnya disebut dengan istikharah. Kaitannya dengan kebahagiaan ini, bisa saya tampilkan sebuah skenario, bahwa jarang manusia yang sadar untuk memilih berbahagia dengan apa yang ada. Kebanyakan orang mempunyai ekspektasi berlebih sehingga melupakan apa yang ada dan mempengaruhi pilihannya. Istikharah hanya menjadi alibi, tanpa kesadaran yang nyata dan keyakinan yang full akan tindakan dan doanya. Sudah istikharah tetapi tidak sungguh – sungguh menjalaninya. Akhirnya, tanpa sengaja mereka menjatuhkan pilihan di seberang tembok bernama ketidak-bahagiaan. Wujud kesadaran memilih ini adalah sikap rela terhadap apa yang didapatkannya. Menerima terhadap apa yang diberikan. Lebih jauh lagi, sikap memilih dan kerelaan ini tertanam di dalam hati sehingga menjelma menjadi kekayaan yang tiada taranya.
Kebahagiaan adalah jalan yang panjang. Banyak benih dan unsur yang membentuknya. Namun satu hal yang pasti, unsur pertama bahagia yang harus kita tahu adalah bahwa bahagia itu letaknya ada di dalam diri kita, hati kita bukan di luar diri kita. Dan untuk membukanya mulai sekarang ucapkanlah dan niatkanlah; saya memilih untuk berbahagia...!!!
Nabi SAW bersabda : “Siapa diantara kalian yang pada waktu pagi hari dalam keadaan sehat badannya, merasa aman dalam hatinya, dan punya makanan hari itu, maka seakan - akan dunia diberikan kepadanya”. (Rowahu Tirmidzi 14/5/2449; Ibnu Majah 2/13/17/4141)
sumber :Ustadz.Faizunal Abdillah
KELUARGA BAHAGIA
Terus terang, tulisan ini terinspirasi berat sebuah lagu Vierra yang berjudul Bersamamu. Pertama kali mendengar liriknya, terbayang – bayang kebiasaan yang sering saya lakukan kepada istri; memandangi wajahnya. Maka, tak pelak saya sering memutar ulangnya. Dan begitulah nyatanya, ada perasaan senang campur bangga ketika melakukannya. Apalagi ketika mendapati wajah istri berseri. Simaklah liriknya;
Memandang wajahmu ceria,
Membuatku tersenyum senang,
Indah dunia.
Tentu saja kita pernah,
Mengalami perbedaan, Kita lalui.
Dalam perjalanannya sebuah rumah tangga tak terlepas dari perbedaan dan perselisihan. Seiring berjalannya waktu dan kedewasaan - antara suami dan istri, kadang perbedaan dan perselisihan itu bisa dilewati dengan baik. Dan itu akan tampak dalam wajah keseharian yang berseri – seri. Bercahaya. Enak dipandang. Dan aura menyejukkan. Kuncinya, saling pengertian dan selalu mengontrol diri agar tidak serabutan dalam bersikap dan bertindak. Coba cermati kembali Sabda Nabi SAW berikut ini.
Dari Abu Huroiroh ra. ia berkata, “Dikatakan kepada Rasulullah SAW manakah perempuan yang baik?” Beliau menjawab,”Yaitu perempuan yang menyenangkan pada suami ketika dipandang, dan mentaatinya ketika diperintah dan tidak menyelisihi di dalam diri dan hartanya dengan apa – apa yang dibenci oleh suami.” (Rowahu an-Nasaa’i Kitabun Nikah)
Banyak orang yang memahami dalil ini dengan sikap yang kurang proaktif. Lebih banyak menunjuk hidung pihak lain daripada mengoreksi diri sendiri. Banyakan menuntut. Banyak orang yang masih beranggapan bahwa hadits ini ditujukan khusus buat para isteri. Sebab obyek yang dibicarakan memang jelas, yaitu kriteria perempuan yang baik. Adalah kewajiban istri agar selalu enak dipandang suami. Berdandan, bersolek, macak untuk sang suami. Itu adalah kewajibannya, tanpa mau tahu bagaimana membuat istri bisa enak dipandang dan bagaimana cara memandangnya. Bagaimana mau berdandan kalau tidak ada perlengkapan buat berdandan. Bagaimana istri mau enak dipandang, jika sudah berdandan mau kerja, eh sang suami minta dilayani. Walaupun istri mau melayani tapi suasananya pasti tidak sedap dipandang. Sebab istri merasa terpaksa, antar dosa, nggak taat suami dan beban terlambat, buru – buru, macet serta kena marah atasan.
Disinilah letak proaktif yang sejatinya merupakan tugas para suami yang tak kalah besar dan menentukan itu. Dan itu semua tersirat dalam redaksional di atas. Apalagi jika dikaitkan dengan tanggung jawab dan kepemimpinan seorang suami. Jadi, jangan serta - merta menyalahkan istri, ketika sang suami menjumpai istrinya berwajah muram, tak enak dipandang. Barangkali, sebab itu semua adalah kelakuan kita - para suami - yang telah membuatnya durja. Pulang terlambat nggak memberitahukan. Ada acara mendadak tak kirim kabar. Atau punya agenda lain tersembunyi, padahal sudah ada janji dengan istri. Dan masih banyak contoh kecil yang lain. Atau – tanpa sengaja – melukainya bahkan mungkin sampai menganiayanya. Tapi kita sering tak merasa. Dalil itu sering menutupinya sehingga tuntutan didahulukan sebelum tuntunan diberikan. Padahal Rasulullah SAW memberikan teladan, Dari Aswad ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Aisyah ra., “Bagaimana Nabi berbuat - bertindak – tanduk di dalam rumahnya?’ Aisyah ra. menjawab, “Beliau ada dalam kerepotan keluarganya, maksud Aisyah yaitu, melayani keluarganya, maka ketika datang waktu sholat Beliau keluar untuk sholat.” (Rowahu al-Bukhori K. an-Nafaqoot)
Kembali pada syair di atas, kata – kata itu mengingatkan untuk bersyukur kala menghadapi situasi yang menyenangkan. Mendapati wajah isteri ceria adalah anugrah. Menenteramkan hati. Adalah sebuah rejeki mendapati wajah isteri berbinar. Laksana rembulan sejuk bersinar. Dan selanjutnya pun jadi tahu, jika melihat wajah isteri tidak berpadu – padan dengan keceriaan, biasanya ada yang tidak beres dengannya. Disitulah letak kebahagiaan selanjutnya. Memandang wajah isteri adalah cermin situasi yang tengah melanda rumah tangga yang sebenarnya. Seraya membuka komunikasi untuk segera menyelesaikannya. Maka seolah nyambung, lagu itu diakhiri dengan referen;
…………………
Ku kan setia menjagamu, bersama dirimu…dirimu,
Sampai nanti akan slalu bersama dirimu…,
Ya, begitulah seharusnya kehidupan berumah tangga. Ada perbedaan. Ada perselisihan. Ada riak dan dinamika kehidupan yang harus dimainkan. Tak lain, semua itu adalah jalan menuju kebahagian itu sendiri. Sebagaimana Allah firmankan dalam KitabNya, “Dan gaulilah mereka istri dengan baik.” (QS An-Nisaa : 19). Pituah yang padat, penuh dan berisi. Tinggal kita memainkannya dalam kehidupan sehari – hari sesuai dengan situasi dan kondisi. Yang semua itu juga atas perkenanNya.
Oleh :Ustadz.Faizunal Abdillah
Membuatku tersenyum senang,
Indah dunia.
Tentu saja kita pernah,
Mengalami perbedaan, Kita lalui.
Dalam perjalanannya sebuah rumah tangga tak terlepas dari perbedaan dan perselisihan. Seiring berjalannya waktu dan kedewasaan - antara suami dan istri, kadang perbedaan dan perselisihan itu bisa dilewati dengan baik. Dan itu akan tampak dalam wajah keseharian yang berseri – seri. Bercahaya. Enak dipandang. Dan aura menyejukkan. Kuncinya, saling pengertian dan selalu mengontrol diri agar tidak serabutan dalam bersikap dan bertindak. Coba cermati kembali Sabda Nabi SAW berikut ini.
Dari Abu Huroiroh ra. ia berkata, “Dikatakan kepada Rasulullah SAW manakah perempuan yang baik?” Beliau menjawab,”Yaitu perempuan yang menyenangkan pada suami ketika dipandang, dan mentaatinya ketika diperintah dan tidak menyelisihi di dalam diri dan hartanya dengan apa – apa yang dibenci oleh suami.” (Rowahu an-Nasaa’i Kitabun Nikah)
Banyak orang yang memahami dalil ini dengan sikap yang kurang proaktif. Lebih banyak menunjuk hidung pihak lain daripada mengoreksi diri sendiri. Banyakan menuntut. Banyak orang yang masih beranggapan bahwa hadits ini ditujukan khusus buat para isteri. Sebab obyek yang dibicarakan memang jelas, yaitu kriteria perempuan yang baik. Adalah kewajiban istri agar selalu enak dipandang suami. Berdandan, bersolek, macak untuk sang suami. Itu adalah kewajibannya, tanpa mau tahu bagaimana membuat istri bisa enak dipandang dan bagaimana cara memandangnya. Bagaimana mau berdandan kalau tidak ada perlengkapan buat berdandan. Bagaimana istri mau enak dipandang, jika sudah berdandan mau kerja, eh sang suami minta dilayani. Walaupun istri mau melayani tapi suasananya pasti tidak sedap dipandang. Sebab istri merasa terpaksa, antar dosa, nggak taat suami dan beban terlambat, buru – buru, macet serta kena marah atasan.
Disinilah letak proaktif yang sejatinya merupakan tugas para suami yang tak kalah besar dan menentukan itu. Dan itu semua tersirat dalam redaksional di atas. Apalagi jika dikaitkan dengan tanggung jawab dan kepemimpinan seorang suami. Jadi, jangan serta - merta menyalahkan istri, ketika sang suami menjumpai istrinya berwajah muram, tak enak dipandang. Barangkali, sebab itu semua adalah kelakuan kita - para suami - yang telah membuatnya durja. Pulang terlambat nggak memberitahukan. Ada acara mendadak tak kirim kabar. Atau punya agenda lain tersembunyi, padahal sudah ada janji dengan istri. Dan masih banyak contoh kecil yang lain. Atau – tanpa sengaja – melukainya bahkan mungkin sampai menganiayanya. Tapi kita sering tak merasa. Dalil itu sering menutupinya sehingga tuntutan didahulukan sebelum tuntunan diberikan. Padahal Rasulullah SAW memberikan teladan, Dari Aswad ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Aisyah ra., “Bagaimana Nabi berbuat - bertindak – tanduk di dalam rumahnya?’ Aisyah ra. menjawab, “Beliau ada dalam kerepotan keluarganya, maksud Aisyah yaitu, melayani keluarganya, maka ketika datang waktu sholat Beliau keluar untuk sholat.” (Rowahu al-Bukhori K. an-Nafaqoot)
Kembali pada syair di atas, kata – kata itu mengingatkan untuk bersyukur kala menghadapi situasi yang menyenangkan. Mendapati wajah isteri ceria adalah anugrah. Menenteramkan hati. Adalah sebuah rejeki mendapati wajah isteri berbinar. Laksana rembulan sejuk bersinar. Dan selanjutnya pun jadi tahu, jika melihat wajah isteri tidak berpadu – padan dengan keceriaan, biasanya ada yang tidak beres dengannya. Disitulah letak kebahagiaan selanjutnya. Memandang wajah isteri adalah cermin situasi yang tengah melanda rumah tangga yang sebenarnya. Seraya membuka komunikasi untuk segera menyelesaikannya. Maka seolah nyambung, lagu itu diakhiri dengan referen;
…………………
Ku kan setia menjagamu, bersama dirimu…dirimu,
Sampai nanti akan slalu bersama dirimu…,
Ya, begitulah seharusnya kehidupan berumah tangga. Ada perbedaan. Ada perselisihan. Ada riak dan dinamika kehidupan yang harus dimainkan. Tak lain, semua itu adalah jalan menuju kebahagian itu sendiri. Sebagaimana Allah firmankan dalam KitabNya, “Dan gaulilah mereka istri dengan baik.” (QS An-Nisaa : 19). Pituah yang padat, penuh dan berisi. Tinggal kita memainkannya dalam kehidupan sehari – hari sesuai dengan situasi dan kondisi. Yang semua itu juga atas perkenanNya.
Oleh :Ustadz.Faizunal Abdillah
----------------------------------------------------------------------------------
BAHAGIA
Menyimak kembali beberapa tulisan tentang kebahagiaan tempo dulu, terbersit keinginan untuk me-redefinisi kajian tentang kebahagiaan ini. Bukan untuk unjuk kebolehan muapun ujub yang tak karuan, kami hanya bermaksud sekedar berbagi, juga semacam tanggung jawab moral atas kekurangan tempo dulu dan memberi makna lebih akan indahnya hidup ini. Namun demikian, tetap saja dalam memberikan jalan pemahaman mempunyai keterkaitan dengan kaidah dan sumber lain yang berhubungan dan memperkuatnya walau tak lepas dari kekurangan tentunya. Kata-kata yang sering kita jumpai dalam yang berhubungan dengan bahagia selain as-sa’iidu adalah seperti falah/aflah yang sering diartikan beruntung dan ghina atau kaya. Secara umum orang sering mengkaitkan kebahagiaan dengan keberuntungan dan kekayaan. Banyak orang yang berpendapat bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang kaya atau kalau tidak kaya setidaknya ia adalah orang yang beruntung. Mari kita simak sumber – sumber berikut.
Rasulullah SAW bersabda: “Di antara kebahagiaan anak Adam adalah istikharahnya (memohon pilihan) kepada Allah, dan diantara kebahagiaan anak Adam adalah kerelaannya kepada ketetapan Allah, sedangkan diantara kesengsaraan anak Adam adalah dia meninggalkan istikharah kepada Allah, dan diantara kesengsaraan anak Adam adalah kemurkaannya terhadap ketetapan Allah.” (Rowahu Ahmad No 1367)
Rasulullah SAW bersabda; ”Sungguh beruntung (bahagia) orang yang ditunjukkan (diberi hidayah) kepada islam dan diberi rizqi yang cukup dan menerima dengan hal tersebut”. (Rowahu Imam Muslim 2/730/1045; Tirmidzi 4/6/2452; Ibnu Majah 2/13/16/4138).
Rasulullah SAW bersabda: “Ridlalah dengan apa yang Allah bagikan buatmu, kamu akan menjadi orang yang terkaya”. (Rowahu Imam Turmudzi 3/377/2407)
Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah kaya itu karena banyaknya harta benda akan tetapi kaya itu adalah kaya jiwa”. (Rowahu Imam Bukhari 11/271/6446; Muslim 2/672/1051; Tirmidzi 4/35/2479)
Secara berurutan dalil - dalil di atas menunjukkan arah kemana manusia mencari ladang kebahagiaan. Benih – benih kebahagiaan ternyata dimulai dari sikap memilih. Dan di sinilah sebetulnya kemampuan manusia yang luar biasa itu di gali. Banyak di antara manusia yang belum sadar bahwa manusia diberi kebebasan dan kekuatan untuk memilih. Yang dalam bahasa haditnya disebut dengan istikharah. Kaitannya dengan kebahagiaan ini, bisa saya tampilkan sebuah skenario, bahwa jarang manusia yang sadar untuk memilih berbahagia dengan apa yang ada. Kebanyakan orang mempunyai ekspektasi berlebih sehingga melupakan apa yang ada dan mempengaruhi pilihannya. Istikharah hanya menjadi alibi, tanpa kesadaran yang nyata dan keyakinan yang full akan tindakan dan doanya. Sudah istikharah tetapi tidak sungguh – sungguh menjalaninya. Akhirnya, tanpa sengaja mereka menjatuhkan pilihan di seberang tembok bernama ketidak-bahagiaan. Wujud kesadaran memilih ini adalah sikap rela terhadap apa yang didapatkannya. Menerima terhadap apa yang diberikan. Lebih jauh lagi, sikap memilih dan kerelaan ini tertanam di dalam hati sehingga menjelma menjadi kekayaan yang tiada taranya.
Kebahagiaan adalah jalan yang panjang. Banyak benih dan unsur yang membentuknya. Namun satu hal yang pasti, unsur pertama bahagia yang harus kita tahu adalah bahwa bahagia itu letaknya ada di dalam diri kita, hati kita bukan di luar diri kita. Dan untuk membukanya mulai sekarang ucapkanlah dan niatkanlah; saya memilih untuk berbahagia...!!!
Nabi SAW bersabda : “Siapa diantara kalian yang pada waktu pagi hari dalam keadaan sehat badannya, merasa aman dalam hatinya, dan punya makanan hari itu, maka seakan - akan dunia diberikan kepadanya”. (Rowahu Tirmidzi 14/5/2449; Ibnu Majah 2/13/17/4141)
sumber :Ustadz.Faizunal Abdillah

0 komentar:
bila ada kekurangan di posting ini mohon di komentari ya.jazakumullohukhoiro